SMS Komentar 0818-90-75-90

Sekretaris Jendral Ban Ki Moon, dalam pidatonya di Pembukaan COP 13 hari ini (12/12) di Gedung BICC, Westin Hotel Nusa Dua Bali mengatakan bahwa negara yang paling bertanggung-jawab terhadap pemanasan global akan mendapat hantaman terbesar
 
Kirimkan SMS komentar anda ke nomor : 0818-75-90-75
 

The English web of CSO Forum now switched into 

http://english.csoforum.net 

You can quote, take or use the news  for FREE and directly. You do not need to ask our permission. Take it and spread it. Hopefully useful!

CSO Forum Team 

 

 
powered_by.png, 1 kB
Beranda arrow COP 13 arrow Artikel arrow 'Seni Perlawanan' Awali Pembukaan Kampung CSO
'Seni Perlawanan' Awali Pembukaan Kampung CSO PDF

By Wahyu Arifin, on 03-12-2007 11:17

Published in : COP 13, Artikel


 
 CSOFORUM, BALI. Goresan cat di kanvas putih ala 'Seni Perlawanan' mengawali pembukaan acara Forum Masyarakat Sipil Indonesia (Civil Society Organization Forum) Indonesia untuk Keadilan Iklim di Kampung CSO, BTDC, Nusa Dua, Bali, Senin (3/12) pagi.


Meski acara pembukaan sempat diguyur hujan, hal itu tidak menyurutkan semangat 15 seniman dan pelukis untuk terus menggoreskan kuas dan catnya di kanvas.

Pemanasan global yang menjadi masalah dunia, memang tidak harus selalu dibahas dan berada di tataran formal seperti rapat ataupun yang lain, tetapi juga bisa melalui seni seperti media lukisan.

Di atas kanvas putih sepanjang 50 meter, sekitar 11 pelukis dan seniman mulai beraksi. Mereka terdiri dari beberapa galeri seni Bali seperti Sanggar Dewata, Sanggar Lempuyangan dan The Toya Shop. Bahkan, tidak hanya itu, mereka juga berkolaborasi dengan seniman yang berasal dari luar negeri yaitu Prancis, AS dan Australia. 

Rebelion Art (Seni Perlawanan), begitu mereka menyebutnya. Lukisan-lukisan yang ditampilkan memang bertema tentang keadaan perubahan iklim dan alam sekitar yang memang sudah tercemar.

Toya, salah satu pelukis dari Bali mengatakan bahwa para seniman harus mulai menyadari tentang masalah perubahan iklim.  ” Kita coba melakukan kampanye tentang keadilan iklim. Karena kita seniman, melalui lukisan inilah kita coba berpartsipasi,” ujar Toya.

Tidak jauh berbeda dengan Toya, Made Wiradana dari Sanggar Dewata mengatakan bahwa selama ini udara di sekitar kita sudah tercemar oleh karbon dan sudah mulai jarangnya pohon yang berfungsi sebagai penetralisir.

” Dari pengamatan terhadap lingkungan yang sudah mulai rusak dan pohon-pohon yang sudah mulai hilang, saya terinsipirasi untuk melukis tentang pohon-pohon yang tak bisa mengimbangi kadar karbon yang lebih banyak,” kata Made Wiradana.

Melawan dan berkampanye tentang keadilan ikilm adalah  landasan dan prinsip yang mereka pegang dalam berkesenian. Mereka juga percaya bahwa lukisan ataupun karya seni yang lain tidak hanya berfungsi untuk dinikmati keindahannya semata, tapi juga bisa berfungsi sebagai  media perlawanan dan penyadaran terhadap masyarakat.***

 


Last update : 03-12-2007 11:25

   
Quote this article in website
Print
Send to friend

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 
Comment language: Indonesia (0), English (0)

Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.5 © 2007-2008 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
© 2008 Indonesia CSO Forum
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.