Letusan senapan Kalashnikov AK 47 mewarnai aksi damai yang dilakukan aktivis Greenpeace di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B di Jepara, Sabtu (1/12/2007) pagi kemarin.
Insiden itu bermula dari aksi belasan aktivis Greenpeace dalam pemasangan spanduk bertuliskan “Coal Kill Climate.” Spanduk raksasa berukuran 20 m x 30 m itu sempat mengejutkan aparat setempat karena dipasang secara menyolok di salah satu tong pembuangan limbah PLTU tersebut.
“Paling tidak terdengar beberapa tembakan ke udara,” kata Black, salah seorang aktivis Greenpeace yang mengikuti aksi. Black sendiri dihubungi dari Jepara oleh portal csoforum melalui saluran telepon dini hari tadi.
Menurut Black, penembakan itu terasa ironis karena para aktivis hanya melakukan aksi damai. Tidak ada aksi kekerasan. Apalagi tindakan anarkis. Terlebih lagi, pada tanggal 3-14 Desember 2007 Bali akan menggelar Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCC).
“Aksi kami memang bertujuan menolak batu bara sebagai pembangkit listrik tenaga uap,” lanjut Black. Sebab, menurut Greenpeace, batu bara merupakan energi fosil terkotor.
Menurut catatan ilmuwan, Batu bara memang merupakan penyumbang karbondioksida (CO2) terbesar untuk pemanasan global yang memicu perubahan iklim.
Walau diwarnai tembakan, aksi pemasangan spanduk raksasa itu berlangsung mulus. Spanduk raksasa sempat digantung sejak pukul 06.30-07.00 WIB, sebelum diturunkan secara paksa oleh aparat keamanan. Menurut Black, dari 14 aktivis Greenpeace yang mengikuti aksi damai tersebut, untunglah tidak ada yang ditahan aparat keamanan.
Seperti diketahui, pembangunan fisik proyek PLTU Tanjung Jati B memakan investasi 1,65 miliar dolar AS.
Sumber dana proyek PLTU berkapasitas 1.320 Megawat tersebut, berasal dari JBIC sebesar 1,1 miliar dolar AS dan sindikasi bank komersial 0,55 miliar dolar AS.
Sumitomo Corp merupakan perusahaan swasta Jepang yang memperoleh izin pendirian proyek PLTU Tanjung Jati B itu.
Last update : 15-12-2007 09:56
|
|
|