|
Sekretaris Eksekutif Konferensi Perubahan Iklim PBB Yvo de Boer menegaskan, negara maju (G-8) harus bertanggungjawab atas pemanasan global yang memicu perubahan iklim dunia. Sebab, negara industrialis maju itu merupakan penyumbang emisi terbesar di planet bumi ini.
“Menurut para ilmuwan, umat manusia hanya punya waktu 10-15 tahun untuk menurunkan suhu di bumi, atau malah sama sekali menaikkannya,” ujar de Boer saat memberi keterangan pers ke ratusan jurnalis di Auditorium Bali International Convention Center, Minggu (2/12) siang. Pasalnya, para ilmuwan itu melihat selama 11 dari 12 tahun terakhir merupakan tahun-tahun terhangat dalam temperatur permukaan global sejak 1850. Sehingga jika tak mendapat pencegahan serius, maka suhu bumi akan naik hingga 3 derajat Celcius pada akhir abad ini. Padahal, sekarang saja lapisan es pada benua Artik telah berkurang sebanyak 2,7 %.
Karena itu, de Boer menyatakan tidak setuju jika negara berkembang diminta untuk menurunkan emisi. Sebab, penurunan emisi tersebut sama halnya mendesak negara berkembang untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Padahal, lanjut de Boer, negara berkembang memerlukan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan untuk meluaskan akses penduduk mereka yang mayoritas masih hidup dengan biaya kurang dari 1 dolar AS/hari alias Rp 9.000/hari.
“Saya rasa amat tidak logis meminta negara berkembang mengurangi emisi. Yang bisa kita lakukan adalah membatasi emisi di negara berkembang,” ujarnya. Dan, menurutnya, salah satunya adalah dengan mendorong para ilmuwan untuk mencari energi alternatif.
Yvo de Boer lalu memberi contoh tentang pimpinan India dan China yang ia temui. Menurut de Boer, para pimpinan negara tersebut sangat peduli pada perubahan iklim. Namun kedua pimpinan itu menyatakan bahwa prioritas utama negara mereka kini adalah memacu pertumbuhan ekononomi.
“Harap diketahui, 400 juta penduduk di India masih tak memiliki akses pada listrik. Akibatnya banyak pelajar terpaksa membaca dengan menggunakan penerangan dari minyak kelapa,” ujarnya. Untuk itulah, ia berharap ada kompromi antara negara berkembang dan negara maju guna mencari mekanisme bersama untuk mengurangi efek gas rumah kaca.
Pesimis Bujuk AS Saat ditanya wartawan mengenai upaya PBB membujuk Amerika Serikat mematuhi Protokol Kyoto, de Boer mengaku pesimis.
“Saya tidak optimis membujuk pemerintah AS untuk mematuhi Protokol Kyoto,” tegasnya. Menurut de Boer, meskipun Presiden George Bush Jr. baru-baru ini menunjukkan perubahan sikap, hal itu bukan didorong oleh kesadaran pemerintah Bush. Melainkan karena tekanan Senat yang sekarang didominasi Partai Demokrat.
Sementara, jelas de Boer, dulu AS memang pernah menandatangani Protokol Kyoto. Tapi itu terjadi pada era Presiden Bill Clinton-Al Gore. Namun saat itu pun Bill Clinton-Al Gore pun tak memberitahu Senat AS yang saat itu dikuasai Partai Konservatif. Karena, sudah pasti Senat akan menolak inisiatif Bill Clinton-Al Gore.
Mengenai rendahnya komitmen para politisi pada pengurangan emisi untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim, Yvo de Boer lalu mengutip pendapat Neil Amstrong saat pertama kali menginjak Bulan. Saat itu Neil mengatakan bahwa saat kakinya melangkah untuk pertama kali di Bulan, hal itu merupakan sebuah langkah kecil manusia. Namun langkah kecil itu merupakan sebuah langkah raksasa untuk peradaban umat manusia.
Namun, kondisi sebaliknya terjadi pada perubahan iklim. “Upaya yang kita tengah lakukan sekarang di Bali merupakan sebuah langkah raksasa bagi umat manusia. Masalahnya, sampai hari ini yang dilakukan baru sebatas langkah kecil,” ujarnya dengan nada ironis. Last update : 06-12-2007 16:31
|
|
|