"Sebenarnya nelayan kerja mati-matian, tapi tetap miskin! Kami tidak mau dikatan malas. Renungan saya , hampir semua pulau telah saya singgahi, tetapi nelayan tetap miskin! Saya nelayan yang bodoh, tapi apakah yang di atas (Pemerintah -red) juga bodoh? Padahal Indonesia kaya sumberdaya alam." (Sopuan 66 tahun, nelayan Semarang, Maret 2003)"
Petani Bali adalah petani yang menggunakan siklus alam dalam pola pertaniannya. Sejak turun temurun, para leluhur telah menurunkan kearifannya seperti sasih (bulan) yang merupakan perhitungan-perhitungan tradisional atas siklus alam, cuaca maupun curah hujan, menjadi panduan bagai para petani Bali untuk bercocok tanam. Namun tiga tahun belakangan ini, para petani banyak yang mengalami kebingungan. Karena perhitungan sasih tidak tepat lagi seperti sebelumnya.
Selama ini pembahasan isu perubahan iklim selalu didominasi oleh pendapat para pakar, aktivis dan tentu saja para konsultan ‘pembangunan’ dari lembaga-lembaga bisnis bantuan. Sementara suara petani, nelayan dan masyarakat yang menjadi korban justru seringkali diabaikan. Berikut suara para petani terkait isu perubahan iklim
Dalam konflik, petani terus dihadapkan pada masalah penangkapan dan bahkan penembakan. Berbagai tindak kekerasan juga terus dihadapi petani dalam perjuangan pembaruan agraria.