|
Hari ini (1/12) Koalisi Masyarakat Sipil untuk keadilan iklim (Indonesian Climate Society Forum for Climate Justice/CSF) menggelar pertemuan guna menggalang dukungan publik untuk mendesak UNFCC tidak terjebak dalam fundamentalisme pasar dalam menyelesaikan persoalan perubahan iklim global.
"Perubahan iklim bukan hanya sekedar permasalahan emisi gas rumah kaca, melainkan telah menjadi semacam ajang tawar-menawar baru antara negara-negara utara dan seletan," ujar Farah Sofa, aktivis Walhi yang mewakili CSF dalam pertemuan tersebut. Negara-negara utara, lanjut Farah Sofa, ingin tetap menikmati kemewahannya di atas penderitaan masyarakat dunia akibat dampak dari perubahan iklim. "Negara-negara selatan telah dibuat tak berdaya dan tergantung terhadap negara-negara utara melalui model pembangunan yang dipaksakan secara global tersebut," tegasnya. "Sayangnya hal-hal semacam ini tidak diagendakan dan diabahas dalam UNFCC," jelasnya. Celakanya lagi, jelas Farah Sofa, UNFCC telah menjadikan isu perubahan iklim ini sebagai komoditas baru guna mempertahankan pengistemawaan negara-negara utara dalam mengesploitasi sumberdaya alam di bumi ini. *** Last update : 02-12-2007 11:50
|