Latar Belakang
Forum Masyarakat Sipil untuk Keadilan Iklim (Civil Society Forum for Climate Justice) terbentuk atas konsensus yang disepakati pada 21 Mei 2007 dalam rangka acara COP 13/CMP 3. Sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil (Civil Society Organization/CSO) Indonesia memangdang pentingnya konsolidasi antara Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia untuk menghadapi COP 13/CMP 3 oleh UNFCCC di Bali pada 3-14 Desember 2007.
CSF kemudian akan mengorganisir sejumlah program dan kegiatan pada saat sebelum, selama, dan setelah COP 13, baik didalam maupun diluar sistem PBB. Saat ini, jumlah organisasi yang tergabung dalam forum adalah 50 organisasi. CSF untuk Keadilam Iklim adalah forum terbuka, maka kesempatan untuk pihak manapun masih selalu terbuka untuk berkomitmen dan terlibat dalam forum, baik dari NGO maupun individu selama sepakat dengan prinsip Keadilan Iklim.
Tujuh Organisasi Masyarakat bertanggung jawab untuk mengorganisir aktifitas CSF secara bersama-sama dalam sebuah tim yang disebut Tim Forum Dinamis (Forum Dynamics Team/FTD). Anggota dari tim ini adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesian (WALHI), Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesian (MPBI), Yayasan Kelompok Masyarakat Pengelola Sumberdaya Alam (KEMALA), Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Sawit Watch, SatuDunia, dan Sekretariat Bersama Indonesia Berseru (SBIB).
Tujuan CSF untuk Keadilan Iklim
Perubahan iklim adalah fakta dan tidak bisa dihindari. Masyarakat umum menjadi saksi akan sangat banyaknya anomali iklim dan cuaca di seluruh penjuru Indonesia, sekaligus menjadi penerima dampak langsung atas fenomena tersebut. Yang lebih penting lagi adalah, perubahan iklim merupakan bukti kegagalan model pembangunan global yang mempertahankan keselamatan masyarakat global, melindungi produktifitas masyarakat di negara berkembang agar bisa memenuhi kualitas hidup yang baik, dan untuk meningkatkan kapasiatas masyarakat dalam mempertahankan layanan ekologis.
Usaha-usaha untuk proses koordinasi global selama duabelas tahun terakhir untuk mengurangi dampak dari pemanasan global telah jelas berpindah dari pengakuan yang disadari sampai rangkaian kegagalan yang masih terjadi dalam hal model pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan. Oleh karena itu, evaluasi kritis terhadap politik-ekonomi global yang didukung oleh beragam instrumen politis multilateral menjadi hal yang sangat diperlukan untuk mengatasi ketidakseimbangan Utara-Selatan, dan juga ketidakadilan lintas generasi dan korupsi berskala besar di negara-negara berkembang yang terjadi saat ini sebagai produk dari politik-ekonomi tersebut. Untuk memahami konteks diatas dengan lebih baik, juga untuk mengungkapkan beberapa argumen kunci sebagai solusi dari masalah diatas adalah tujuan-tujuan dari CSF untuk Keadilan Iklim melalui UNFCCC.
CSF untuk Inisiatif Keadilan Iklim adalah batu loncatan yang strategis untuk aksi nyata untuk solusi permanen dari penderitaan yang masih dan selalu berlangsung dan membebani tingkat populasi yang sangat tinggi di Indonesia. Forum ini akan mengakomodir setiap ketertarikan dari CSO dan Organisasi Masyarakat (PO), terutama bagi mereka yang mewakili suara dari komunitas rentan untuk proses politis dalam rapat UNFCCC. Gerakan strategis telah dimulai untuk menekan Pemerintah Indonesia agar lebih relevan dengan keadaan realitas dari komunitas yang rentan dan paling terkena dampak.
Secara spesifik, tujuan jangka pendek utama (key immediate objectives) dari CSF adalah:
- Menggalang dan membangun kesadaran publik atas dampak perubahan iklim di Indonesia
- Memperkuat solidaritas antar sesama CSO untuk menanggapi politik perubahan iklim baik dari tahap nasional, regional, serta internasional.
- Memfasilitasi suara dari komunitas rentan pada COP 13/CMP 3 oleh UNFCCC di Bali; dan,
- Menyediakan argumen kunci utama untuk mendahulukan minat komunitas rentan kepada pemerintah terkait dengan posisi politis mereka di UNFCCC
Aktifitas CSF
CSF untuk Keadilan Iklim akan mengorganisir serangkaian aktifitas sebelum, selama, dan sesudah COP 13/CMP 3 oleh UNFCCC. Aktifitas-aktifitas ini meliputi empat issue besar:
1. Keselamatan manusia
2. Produktivitas dan Konsumsi
3. Hutang, termasuk hutang ekologis
4. Penggunaan Lahan
Kegiatan Popular Mobilization “Million Faces, One Message: Climate Justice”
Kegiatan Popular Mobilization yang dilakukan oleh CSF merupakan kegiatan Pra atau menjelang Konvensi UNFCCC di Bali. CSF meluncurkan Kampanye “Million Faces, One Message: Climate Justice” yang bertujuan untuk:
- Mengkomunikasikan masalah perubahan iklim dan perlunya penerapan Climate Justice dalam menanganinya, agar tidak menambah buruk kemiskinan dan beban yang ditanggung oleh kelompok rentan, khususnya di Negara-negara berkembang.
- Menggalang suara-suara dari masyarakat agar Negara-negara para pihak mengambil tindakan serius dalam menangani masalah perubahan iklim.
- Membawa suara masyarakat dalam proses Konvensi UNFCCC/COP13/CMP3
Kegiatan menggalang dukungan dalam kampanye MFOM: Climate Justice, dilakukan dalam bentuk foto atau pun bentuk2 benta dan ekspresi kreatif lainnya (seperti benih dari kelompok petani, alat pancing dari kelompok nelayan) yang kemudian akan disampaikan di Bali dalam bentuk seni Instalasi. Deretan wajah dan berbagai simbol kehidupan ini bertujuan untuk mengingatkan para juru runding bahwa kehidupan banyak orang lah yang dipertaruhkan, sehingga harus mengambil kesepakatan yang terbaik.
Kegiatan Kampanye MFOM: Climate Justice ini diluncurkan pertama kali dalam diskusi di UI pada Rabu, 21 November 2007, dan akan bergulir di 12 kota lainnya di Indonesia.
Powered by Facebook Comments



















