Slide Show
 

Forum

Forum

Perubahan Iklim dan Adaptasi Penduduk Lokal

E-mail Print PDF
Oleh JOHAN ISKANDAR
Perubahan iklim telah melanda dan dirasakan secara global oleh komunitas lokal di berbagai kawasan dunia secara lintas budaya (Crate dan Nutall, 2009:9). Kecenderungan perubahan iklim tersebut dirasakan pula di Indonesia. Sejak tahun 1990-an, misalnya, berbagai kawasan di Indonesia kian sering dilanda kekeringan.
Akibatnya, tiap terjadi kekeringan, ratusan hektar sawah di Pulau Jawa mengalami gagal panen atau puso (Iskandar, 2007:121). Bahkan diperkirakan pada masa-masa mendatang gejala perubahan iklim global tersebut akan kian serius melanda berbagai kawasan dunia. Karena itu, pengetahuan ekologi tradisional dari komunitas lokal di Indonesia untuk upaya adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dikaji dan diberdayakan secara saksama.
Pengetahuan iklim
Pada masa silam, dalam bercocok tanam padi di ladang (huma) ataupun sawah, petani di Tatar Sunda berlandasan kuat pada pengetahuan ekologi tradisional, seperti tentang iklim. Pada umumnya iklim dikenal dalam tiga tingkatan, yaitu iklim tahunan, bulanan dan harian. Iklim tahunan dibedakan menjadi dua kategori utama, yakni musim hujan (usum hujan atau usum ngijih) dan musim kemarau (usum halodo).
Sementara itu, siklus iklim dalam setahun disusun dalam 12 mangsa, yaitu kasa, karo, katiga, kapat (sapar), kalima, kanem, kapitu, kadalapan, kasanga (kasalapan), kadasa (kasapupuluh), desta (hapit lemah), dan sada (hapit kayu). Selain itu, dikenal pula variasi iklim harian, yaitu pada waktu siang (beurang) dan malam (peuting).
Dalam pranata mangsa, tiap mangsa menggambarkan pengetahuan penduduk tentang karakteristik kondisi variasi iklim, seperti keadaan angin, temperatur udara, kelembaban, curah hujan, dan berbagai indikator di alam. Mangsa kasa berupa musim kemarau, misalnya, ditandai dengan kondisi iklim harian, seperti suhu udara siang hari yang sangat panas dan malam hari yang sangat dingin, serta daun beberapa tumbuhan berguguran.
Pada masyarakat Baduy, bulan kasa merupakan masa panen huma serang dan dilakukan upacara kawalu kahiji (Iskandar, 2007:117). Adapun bagi petani sawah, bulan kasa merupakan panen padi musim garapan utama.
Petani di Tatar Sunda juga sangat menyadari bahwa keberhasilan bercocok tanam padi di huma atau sawah sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti variasi iklim. Karena itu, untuk tanam padi, petani memilih waktu yang sangat tepat. Sebab, kegagalan mereka menentukan waktu yang tepat untuk tanam padi dapat menyebabkan kegagalan panen. Guna menentukan masa yang tepat untuk tanam padi tersebut, dipakai berbagai indikator alam, seperti kontelasi bintang di langit, seperti bintang wuluku atau bintang kidang (The Belt of Orion) dan bintang kartika (The Pleiades).
Pada masa silam, di awal penggarapan sawah di Tatar Sunda senantiasa diadakan upacara mitembeyan oleh segenap warga desa. Upacara tersebut merupakan pertanda bahwa warga telah menyepakati waktu yang sesuai untuk bercocok tanam padi, antara lain dengan didasarkan pada hasil indikasi rasi bintang wuluku (Mustapa [1913] 1996, 86-87).
Maka, kekompakan petani dalam menentukan waktu tanam padi memberikan keuntungan ekologis, seperti dapat mengendalikan hama dan mengatur kecukupan air irigasi dari kawasan hulu hingga hilir (bandingkan dengan Lansing, 1991).
Pengetahuan varietas padi
Selain memiliki pengetahuan tentang iklim, petani di Tatar Sunda pada masa silam juga memiliki pengetahuan tentang varietas padi lokal. Contohnya, berdasarkan klasifikasi petani (folk classification), varietas padi dibedakan menjadi pare ketan dan non-ketan. Lantas, berbagai varietas padi tersebut dapat dibedakan pula menurut sifat ekologis, bentuk morfologi, dan cita rasa (kuliner).
Menurut sifat ekologis, dikenal sejumlah varietas padi lokal, seperti padi tahan kering (pare huma atau gogo), padi tahan genangan air (pare ranca), padi dataran tinggi dengan umur panjang (pare leuir), dan padi dataran rendah dengan umur pendek (pare hawara). Menurut morfologinya, dikenal varietas padi berbulu (pare bulu) dan padi tidak berbulu (pare leger atau gundil); biji padi gede, sedengan, leutik, buleud, pondok, panjang, dan sedengan; dengan warna beras (beas) bodas, beureum, hideung, dan lain-lain.
Sementara itu, berdasarkan kuliner, dikenal nasi liket rasa lezat dan beraroma (pulen) serta nasi tidak liket (bear) dengan rasa kurang lezat. Sebelum diintroduksi varietas padi unggul berumur genjah, nonfotosensitif, melalui program revolusi hijau, petani di Tatar Sunda memiliki kemampuan bercocok tanam padi secara mandiri dengan daya lenting tinggi dan berkelanjutan.
Pada umumnya sistem pertanian tersebut berbasis pengetahuan ekologi tradisional mendalam serta terkait erat dengan sistem sosial ekonomi budaya. Dalam upaya mengadaptasikan faktor lingkungan lokal yang beragam dan kompleks, seperti variasi iklim, petani biasanya menanam aneka varietas padi yang memiliki sifat fotosensitif dengan masa berbunga menurut panjang hari (musim).
Penentuan waktu tanam berpedoman pada pranata mangsa, yaitu pada mangsa kapat dan kalima. Pada saat tersebut air berkecukupan dan populasi hama padi rendah. Ketika populasi hama padi meningkat, padi telah dipanen. Jadi, keterlambatan panen dapat menyebabkan kegagalan panen akibat hama atau pengaruh iklim.
Sementara itu, setelah panen padi, untuk bertanam padi pada periode penanaman berikutnya, petani menunggu hujan turun kembali. Pada saat itu lahan diistirihatkan sehingga kesuburan tanah dapat pulih karena terjadi penguraian unsur-unsur hara dari sisa jerami dan aktivitas berbagai jasad renik yang dapat pengikat nitrogen.
Umumnya produksi varietas padi lokal relatif lebih rendah dibandingkan dengan varietas padi unggul genjah. Akan tetapi, varietas padi lokal memiliki keunggulan lain, seperti memiliki adaptasi baik terhadap variasi lingkungan lokal, sifat kuliner enak dan lezat, serta penyediaan dan konservasi benih dapat diupayakan petani secara mandiri.
Maka, pengetahuan ekologi tradisional tentang adaptasi penduduk terhadap lingkungan yang cukup baik tersebut seyogianya dapat diberdayakan dalam upaya swasembada pangan dan menghadapi perubahan iklim global yang kian tidak menentu. JOHAN ISKANDAR Dosen Etnobiologi dan Peneliti PPSDAL-LPPM Unpad

Perubahan iklim telah melanda dan dirasakan secara global oleh komunitas lokal di berbagai kawasan dunia secara lintas budaya (Crate dan Nutall, 2009:9). Kecenderungan perubahan iklim tersebut dirasakan pula di Indonesia. Sejak tahun 1990-an, misalnya, berbagai kawasan di Indonesia kian sering dilanda kekeringan.

Akibatnya, tiap terjadi kekeringan, ratusan hektar sawah di Pulau Jawa mengalami gagal panen atau puso (Iskandar, 2007:121). Bahkan diperkirakan pada masa-masa mendatang gejala perubahan iklim global tersebut akan kian serius melanda berbagai kawasan dunia. Karena itu, pengetahuan ekologi tradisional dari komunitas lokal di Indonesia untuk upaya adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dikaji dan diberdayakan secara saksama.
Pengetahuan iklim 

 

Pada masa silam, dalam bercocok tanam padi di ladang (huma) ataupun sawah, petani di Tatar Sunda berlandasan kuat pada pengetahuan ekologi tradisional, seperti tentang iklim. Pada umumnya iklim dikenal dalam tiga tingkatan, yaitu iklim tahunan, bulanan dan harian. Iklim tahunan dibedakan menjadi dua kategori utama, yakni musim hujan (usum hujan atau usum ngijih) dan musim kemarau (usum halodo). 

Sementara itu, siklus iklim dalam setahun disusun dalam 12 mangsa, yaitu kasa, karo, katiga, kapat (sapar), kalima, kanem, kapitu, kadalapan, kasanga (kasalapan), kadasa (kasapupuluh), desta (hapit lemah), dan sada (hapit kayu). Selain itu, dikenal pula variasi iklim harian, yaitu pada waktu siang (beurang) dan malam (peuting). 

Dalam pranata mangsa, tiap mangsa menggambarkan pengetahuan penduduk tentang karakteristik kondisi variasi iklim, seperti keadaan angin, temperatur udara, kelembaban, curah hujan, dan berbagai indikator di alam. Mangsa kasa berupa musim kemarau, misalnya, ditandai dengan kondisi iklim harian, seperti suhu udara siang hari yang sangat panas dan malam hari yang sangat dingin, serta daun beberapa tumbuhan berguguran. 

Pada masyarakat Baduy, bulan kasa merupakan masa panen huma serang dan dilakukan upacara kawalu kahiji (Iskandar, 2007:117). Adapun bagi petani sawah, bulan kasa merupakan panen padi musim garapan utama. 

Petani di Tatar Sunda juga sangat menyadari bahwa keberhasilan bercocok tanam padi di huma atau sawah sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti variasi iklim. Karena itu, untuk tanam padi, petani memilih waktu yang sangat tepat. Sebab, kegagalan mereka menentukan waktu yang tepat untuk tanam padi dapat menyebabkan kegagalan panen. Guna menentukan masa yang tepat untuk tanam padi tersebut, dipakai berbagai indikator alam, seperti kontelasi bintang di langit, seperti bintang wuluku atau bintang kidang (The Belt of Orion) dan bintang kartika (The Pleiades). 

Pada masa silam, di awal penggarapan sawah di Tatar Sunda senantiasa diadakan upacara mitembeyan oleh segenap warga desa. Upacara tersebut merupakan pertanda bahwa warga telah menyepakati waktu yang sesuai untuk bercocok tanam padi, antara lain dengan didasarkan pada hasil indikasi rasi bintang wuluku (Mustapa [1913] 1996, 86-87). 

Maka, kekompakan petani dalam menentukan waktu tanam padi memberikan keuntungan ekologis, seperti dapat mengendalikan hama dan mengatur kecukupan air irigasi dari kawasan hulu hingga hilir (bandingkan dengan Lansing, 1991).

Pengetahuan varietas padi 

Selain memiliki pengetahuan tentang iklim, petani di Tatar Sunda pada masa silam juga memiliki pengetahuan tentang varietas padi lokal. Contohnya, berdasarkan klasifikasi petani (folk classification), varietas padi dibedakan menjadi pare ketan dan non-ketan. Lantas, berbagai varietas padi tersebut dapat dibedakan pula menurut sifat ekologis, bentuk morfologi, dan cita rasa (kuliner). 

Menurut sifat ekologis, dikenal sejumlah varietas padi lokal, seperti padi tahan kering (pare huma atau gogo), padi tahan genangan air (pare ranca), padi dataran tinggi dengan umur panjang (pare leuir), dan padi dataran rendah dengan umur pendek (pare hawara). Menurut morfologinya, dikenal varietas padi berbulu (pare bulu) dan padi tidak berbulu (pare leger atau gundil); biji padi gede, sedengan, leutik, buleud, pondok, panjang, dan sedengan; dengan warna beras (beas) bodas, beureum, hideung, dan lain-lain. 

Sementara itu, berdasarkan kuliner, dikenal nasi liket rasa lezat dan beraroma (pulen) serta nasi tidak liket (bear) dengan rasa kurang lezat. Sebelum diintroduksi varietas padi unggul berumur genjah, nonfotosensitif, melalui program revolusi hijau, petani di Tatar Sunda memiliki kemampuan bercocok tanam padi secara mandiri dengan daya lenting tinggi dan berkelanjutan. 

Pada umumnya sistem pertanian tersebut berbasis pengetahuan ekologi tradisional mendalam serta terkait erat dengan sistem sosial ekonomi budaya. Dalam upaya mengadaptasikan faktor lingkungan lokal yang beragam dan kompleks, seperti variasi iklim, petani biasanya menanam aneka varietas padi yang memiliki sifat fotosensitif dengan masa berbunga menurut panjang hari (musim). 

Penentuan waktu tanam berpedoman pada pranata mangsa, yaitu pada mangsa kapat dan kalima. Pada saat tersebut air berkecukupan dan populasi hama padi rendah. Ketika populasi hama padi meningkat, padi telah dipanen. Jadi, keterlambatan panen dapat menyebabkan kegagalan panen akibat hama atau pengaruh iklim. 

Sementara itu, setelah panen padi, untuk bertanam padi pada periode penanaman berikutnya, petani menunggu hujan turun kembali. Pada saat itu lahan diistirihatkan sehingga kesuburan tanah dapat pulih karena terjadi penguraian unsur-unsur hara dari sisa jerami dan aktivitas berbagai jasad renik yang dapat pengikat nitrogen. 

Umumnya produksi varietas padi lokal relatif lebih rendah dibandingkan dengan varietas padi unggul genjah. Akan tetapi, varietas padi lokal memiliki keunggulan lain, seperti memiliki adaptasi baik terhadap variasi lingkungan lokal, sifat kuliner enak dan lezat, serta penyediaan dan konservasi benih dapat diupayakan petani secara mandiri. 

Maka, pengetahuan ekologi tradisional tentang adaptasi penduduk terhadap lingkungan yang cukup baik tersebut seyogianya dapat diberdayakan dalam upaya swasembada pangan dan menghadapi perubahan iklim global yang kian tidak menentu. JOHAN ISKANDAR Dosen Etnobiologi dan Peneliti PPSDAL-LPPM Unpad


Powered by Facebook Comments
 

Menu

Login

Follow us on Twitter

Berbagi Buku

Download Area

Workshop Nasional Climate Change Marriot 26 Januari 2010 


 
download

You are here:

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday184
mod_vvisit_counterYesterday293
mod_vvisit_counterThis week1385
mod_vvisit_counterLast week2162
mod_vvisit_counterThis month738
mod_vvisit_counterLast month9504
mod_vvisit_counterAll days97244

Kliping Berita

Jakarta, Kompas - Akan ada penandatanganan perjanjian bantuan untuk pendanaan dalam kerangka perubahan iklim di Kopenhag...

Latest Visitors

Pengunjung Terakhir
IP VisitorWaktu
» 11.241.31.114.platinum.net.id 3m ago
» 91.201.66.90 19m ago
» 209.249.53.183 43m ago

Need Volunteers

Need Volunteers

Support H E L P

H E L P

Keadilan Iklim